Jumat, 31 Agustus 2012

askep SEPSIS NEONATORUM


BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A.    DEFENISI
Sepsis adalah sindrome yang di karakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah, yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik. (Marilynn E. Doenges, 1999).

Sepsis adalah bakteri umum pada aliran darah. (Donna L. Wong, 2003).
Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisi sebagai infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan. (Bobak, 2004). Sepsis adalah infeksi bakteri generalisata yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. (Mary E. Muscari, 2005).

Neonatus sangat rentan karena respon imun yang belum sempurna. Angka mortalitas telah berkurang tapi insidennya tidak. Faktor resiko antara lain, prematuritas, prosedur invasif, penggunaan steroid untuk masalah paru kronis, dan pajanan nosokomial terhadap patogen. Antibodi dalam kolostrum sangant efeektif melawan bakteri gram negatif, oleh sebab itu, menyusui ASI memberi manfaat perlindungan terhadap infeksi.

B.     ETIOLOGI
Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri :
1.      Bakteri escherichia koli
2.      Streptococus group B
3.      Stophylococus aureus
4.      Enterococus
5.      Listeria monocytogenes
6.      Klepsiella

C.     PATOFISIOLOGI
Berespon menghasilkan panas tubuh
 
Gangguan pola nafas tidak efektis
 
Fungsi tidak optimal
 
Bayi akan sesak
 
G3 sirkulasi O2 co2
 
Erirtosit banyak dilisis
 
 Muntah, Diare malas menghisap
 
System gastrointestinal
 
Organ pernapasan
 
Organ hati
 
Keseluruhan tubuh janin hipotalamus
 
Resiko infeksi
 
meningitis,oesteomelitis
 
Infeksi / kuman menyebar
 
Terjadi infeksi awal
 
Masuk kedalam tubuh janin
 
Melalui air ketuban
 
Infeksi pada ibu
 
bakteri
 























                                                                                                                                                                             
 


D.    MANIFESTASI KLINIS
Menurut Arief, 2008, manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut :
1.      Umum : panas (hipertermi), malas minum, letargi, sklerema
2.      Saluran cerna: distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali
3.      Saluran nafas: apnoe, dispnue(< 30x/menit), takipnae(>60x/menit), retraksi, nafas cuping hidung, merintih, sianosis
4.      Sistem kardiovaskuler: pucat, sianosis, kulit lembab, hipotensi, takikardi(> 160x/menit), bradikardi(< 100x/menit)
5.      Sistem syaraf pusat: iritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjol
6.      Hematologi: Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdaraha.
7.      Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut kembung
8.      Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:
9.      Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar
10.  Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun
11.  Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena
12.  Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat
13.  Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah.

E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Pemeriksaan mikrokopis maupun pembiaakan terhadap contoh darah air kemih, jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan fungsi lumbal.
2.      Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analisis dan kultur urin :
a.       Leukositosis (>34.000×109/L)
b.      Leukopenia (< 4.000x 109/L)
c.       Netrofil muda 10%
d.      Perbandingan netrofil immature(stab) dibanding total (stb+segmen)atau I/T ratio >0,2
e.       Trombositopenia (< 100.000 x 109/L)
f.       CRP >10mg /dl atau 2 SD dari normal


Factor-faktor pada masa hematologi :
·         Peningkatan kerentaan kapiler
·         Peningkatan kecenderungan perdarahan(kadar protrombin plasma rendah)
·         Perlambatan perkembangansel-sel darah merah
·         Peningkatan hemolisis
·         Kehilangan darah akibat uji  laboratorium yang sering dilakukan

F.     PENATALAKSANAAN
1)      Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v  (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari, untuk neonatus umur > 7 hari dibagi 3 dosis), dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.m/i.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.v harus diencerkan dan waktu pemberian ? sampai 1 jam pelan-pelan).
2)      Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap, urine, lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine dan feses (atas indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel, kimia, pengecatan Gram), foto polos dada, pemeriksaan CRP kuantitatif).
3)      Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin, gula darah, analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-lain.
4)      Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi, pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7.
5)      Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi, CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas indikasi khusus). Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.
6)      Pengobatan suportif meliputi :
Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi metabolik asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah, plasma, trombosit, terapi kejang, transfusi tukar.
G.    KOMPLIKASI
1.      Kelainan bawaan jantung,paru,dan organ-organ yang lainnya
2.      Sepsis berat : sepsis disertai hipotensi dan disfungsi organ tunggal
3.      Syok sepsis : sepsis berat disertai hipotensi\
4.      Sindroma disfungsi multiorgan (MODS)
5.      Perdarahan
6.      Demam yang terjadi pada ibu
7.      Infeksi pada uterus atau plasenta
8.      Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
9.      Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
10.  roses kelahiran yang lama dan sulit
H.    PENCEGAHAN
a.       Pada masa Antenatal  :
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
b.      Pada masa Persalinan :
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.
c.       Pada masa pasca Persalinan :
Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.









BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1.      PENGKAJIAN
2.      Aktivitas/istirahat
Gejala: malaise
3.      Sirkulasi
Tanda: tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal denyut perifer kuat,cepat,takikardia (syok).
4.      Eliminasi
Gejala: diare
5.      Makanan dan Minuman
Gejala: anoreksia, mual, munta
6.      Neurosensori
Gejala: Sakit kepala, pusing, pingsan
Tanda: gelisah, ketakutan
7.      Nyeri / Keamanan
Gejala: abdomiral
8.      Pernafasan
Gejala: tacipnea, infeksi paru, penyakit vital
Tanda: Suhu naik( 39,95OC) kadang abnormal dibawah 39,95OC
9.      Seksualitas
Gejala:  puripus perineal
Tanda: magerasi vulvaa – pengeringan vaginal purulen
10.  Penyuluhan Pembelajaraan
Gejala: masalah kesehatan kronis riwaayat selenektomi penggunaan antibiaotik

2.      DIAGNOSA

       I.            Resiko tinggi terhadap infeksi (progesi dari sepsis ke syok sepsis) berdasarkan prosedur invasif, pemajanan lingkungan (nasokomial).
Intervensi :
1)      Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi
2)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukaan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril.
3)      Dorong penggantian posisi , nafas dalama/ batuk.
4)      Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan
5)      Pantau kecendrungan suhu




Rasional :
1)      Isolasi luka linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan untuk mengalirkan luka, sementar pengunjung untuk menguranagi kemungkinan infeksi.
2)      Mengurangi kontaminasi ulang.
3)      Bersihkan paru yang baaik untuk mencegah pnemoniaa
4)      Mencegah penyebaran infeksi melalui proplet udaraa.
5)      Demam ( 38,5OC- 40OC) disebabkan oleh efek dari endotoksinhipotalkus dan endofrin yang melepaskan pirogen.


    II.            Hipertermia berdasarkan peningkatan tingkat metabolisme, penyakit dehidrasi, efek langsung dari sirkulasiedotoksia pada hipotalamus perubahan pada reguasi temperataif.
Intervensi :
1)      Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil / diaporesis.
2)      Pantau suhu linkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi.
3)      Berikan kompres hangat.
Rasional :
1)      Suhu  38,9OC- 41,1OC menunjukakana proses penyakit infeksius akut.
2)      Suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankana sushu mendekati normala.
3)      Dapat membantu mengurangi demam.



 III.            Kekurangan volume cairan berdasaarkan peningkataaan jelas padaa vasodilatif maatif/ kompurtmen vaskuler dan permeabilitas kapiler/kebocvoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga)
Intervensi :
1)      Ukur / kadar urine dan berat jenis datat ketidaak seimbangan masukan dan keluaraan kumulatif dihubungkan dengan berat badan setiapa hari, dorong masukan cairan oral sesuai toleransi.
2)      Palpasi denyut peripher
3)      Kaji membran mukosaa kering, turgor kulit yang kurang baik, dan rasa haaus.
4)      Amat odema dependem/ periper pada skrotum, punggung kaki.
Rasional :
1)      Pengurangan dalam sirkulasi volume cairan dapat mengurangi tekanan darh.
2)      Denyut yang lemah, mudah hilang dapat menyebabkan hipovolemia.
3)      Hipovomelemia/cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda tanda dehidrasi.
4)      Kehilangan cairan dari komparlemen vaskuler kedalam ruangaan intersilikal akan menyebabkan edema jaringan.








BAB III
KESIMPULAN
A.    KESIMPULAN
Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. (DEPKES 2007)
a)      Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.
b)      Proses patofisiologi sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.
c)      Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium
d)     perubahan ambilan dan penggunaan oksigen terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat, complemen cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminatedintravaskular coagulation (DIC) dan kematian.( Bobak, 2004).
B.     SARAN
a)     Meningkatkan mutu pelayan kesehatan
b)     Meningkatkan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
c)     Meningkatkan pofesionalitas kerja perawat.



DAFTAR PUSTAKA

v  Carpenito, LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktek Klinis, Edisi 6. Jakarta : EGC.
v  Doengoes, dkk. 1999 .Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta :EGC
v  Harianto, Agus. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses internet di http://www.pediatrik.com/artikel/sepsis-neonatorium
v  Novriani, Erni. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses Internet di http://cemolgadis-melayu.blogspot.com/2008/12/kepanak-sepsis.htm
v  Berkow & Beers. 1997. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Akses internet dihttp://debussy.hon.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum
v  Nelson, Ilmu Kesehatan Anak ed.15 vol.I.1999.EGC:Jakarta
v  Bobak,keperawatn maternitas ed.4.2004.EGC:Jakarta











DAFTAR ISI
BAB I  : TINJAUAN TEORITIS
1.      DEFENISI
2.      ETIOLOGI
3.      PATOFISIOLOGI
4.      MANIFESTASI KLINIS
5.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
6.      PENATALAKSANAAN
7.      KOMPLIKASI
8.      PENCEGAHAN
BAB II : ASUHAN KEPERAWATA
1.      PENGKAJIAN
2.      DIAGNOSA
3.      INTERVESI
4.      RASIONAL
5.      EVALUASI
BAB III: KESIMPULAN
1.      KESIMPULAN
2.      SARAN
DAFTAR ISI


ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.DENGAN GANGGUAN SEPSIS NEONATORUM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
1.      MINTARIA NAIBAHO
2.      KASIRIA NDRURU
3.      RAJA YUNUS SINAGA
4.      WARISMAN NDRURU




AKADEMI KEPERAWATAN RSU HERNA MEDAN
T/A 2012/2013BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A.    DEFENISI
Sepsis adalah sindrome yang di karakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah, yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik. (Marilynn E. Doenges, 1999).

Sepsis adalah bakteri umum pada aliran darah. (Donna L. Wong, 2003).
Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisi sebagai infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan. (Bobak, 2004). Sepsis adalah infeksi bakteri generalisata yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. (Mary E. Muscari, 2005).

Neonatus sangat rentan karena respon imun yang belum sempurna. Angka mortalitas telah berkurang tapi insidennya tidak. Faktor resiko antara lain, prematuritas, prosedur invasif, penggunaan steroid untuk masalah paru kronis, dan pajanan nosokomial terhadap patogen. Antibodi dalam kolostrum sangant efeektif melawan bakteri gram negatif, oleh sebab itu, menyusui ASI memberi manfaat perlindungan terhadap infeksi.

B.     ETIOLOGI
Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri :
1.      Bakteri escherichia koli
2.      Streptococus group B
3.      Stophylococus aureus
4.      Enterococus
5.      Listeria monocytogenes
6.      Klepsiella

C.     PATOFISIOLOGI
Berespon menghasilkan panas tubuh
 
Gangguan pola nafas tidak efektis
 
Fungsi tidak optimal
 
Bayi akan sesak
 
G3 sirkulasi O2 co2
 
Erirtosit banyak dilisis
 
 Muntah, Diare malas menghisap
 
System gastrointestinal
 
Organ pernapasan
 
Organ hati
 
Keseluruhan tubuh janin hipotalamus
 
Resiko infeksi
 
meningitis,oesteomelitis
 
Infeksi / kuman menyebar
 
Terjadi infeksi awal
 
Masuk kedalam tubuh janin
 
Melalui air ketuban
 
Infeksi pada ibu
 
bakteri
 























                                                                                                                                                                             
 


D.    MANIFESTASI KLINIS
Menurut Arief, 2008, manifestasi klinis dari sepsis neonatorum adalah sebagai berikut :
1.      Umum : panas (hipertermi), malas minum, letargi, sklerema
2.      Saluran cerna: distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali
3.      Saluran nafas: apnoe, dispnue(< 30x/menit), takipnae(>60x/menit), retraksi, nafas cuping hidung, merintih, sianosis
4.      Sistem kardiovaskuler: pucat, sianosis, kulit lembab, hipotensi, takikardi(> 160x/menit), bradikardi(< 100x/menit)
5.      Sistem syaraf pusat: iritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjol
6.      Hematologi: Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdaraha.
7.      Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut kembung
8.      Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:
9.      Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar
10.  Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun
11.  Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena
12.  Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat
13.  Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah.

E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Pemeriksaan mikrokopis maupun pembiaakan terhadap contoh darah air kemih, jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan fungsi lumbal.
2.      Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analisis dan kultur urin :
a.       Leukositosis (>34.000×109/L)
b.      Leukopenia (< 4.000x 109/L)
c.       Netrofil muda 10%
d.      Perbandingan netrofil immature(stab) dibanding total (stb+segmen)atau I/T ratio >0,2
e.       Trombositopenia (< 100.000 x 109/L)
f.       CRP >10mg /dl atau 2 SD dari normal


Factor-faktor pada masa hematologi :
·         Peningkatan kerentaan kapiler
·         Peningkatan kecenderungan perdarahan(kadar protrombin plasma rendah)
·         Perlambatan perkembangansel-sel darah merah
·         Peningkatan hemolisis
·         Kehilangan darah akibat uji  laboratorium yang sering dilakukan

F.     PENATALAKSANAAN
1)      Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v  (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari, untuk neonatus umur > 7 hari dibagi 3 dosis), dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.m/i.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.v harus diencerkan dan waktu pemberian ? sampai 1 jam pelan-pelan).
2)      Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap, urine, lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine dan feses (atas indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel, kimia, pengecatan Gram), foto polos dada, pemeriksaan CRP kuantitatif).
3)      Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin, gula darah, analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-lain.
4)      Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi, pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7.
5)      Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi, CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas indikasi khusus). Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.
6)      Pengobatan suportif meliputi :
Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi metabolik asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah, plasma, trombosit, terapi kejang, transfusi tukar.
G.    KOMPLIKASI
1.      Kelainan bawaan jantung,paru,dan organ-organ yang lainnya
2.      Sepsis berat : sepsis disertai hipotensi dan disfungsi organ tunggal
3.      Syok sepsis : sepsis berat disertai hipotensi\
4.      Sindroma disfungsi multiorgan (MODS)
5.      Perdarahan
6.      Demam yang terjadi pada ibu
7.      Infeksi pada uterus atau plasenta
8.      Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
9.      Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
10.  roses kelahiran yang lama dan sulit
H.    PENCEGAHAN
a.       Pada masa Antenatal  :
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
b.      Pada masa Persalinan :
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.
c.       Pada masa pasca Persalinan :
Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.









BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1.      PENGKAJIAN
2.      Aktivitas/istirahat
Gejala: malaise
3.      Sirkulasi
Tanda: tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal denyut perifer kuat,cepat,takikardia (syok).
4.      Eliminasi
Gejala: diare
5.      Makanan dan Minuman
Gejala: anoreksia, mual, munta
6.      Neurosensori
Gejala: Sakit kepala, pusing, pingsan
Tanda: gelisah, ketakutan
7.      Nyeri / Keamanan
Gejala: abdomiral
8.      Pernafasan
Gejala: tacipnea, infeksi paru, penyakit vital
Tanda: Suhu naik( 39,95OC) kadang abnormal dibawah 39,95OC
9.      Seksualitas
Gejala:  puripus perineal
Tanda: magerasi vulvaa – pengeringan vaginal purulen
10.  Penyuluhan Pembelajaraan
Gejala: masalah kesehatan kronis riwaayat selenektomi penggunaan antibiaotik

2.      DIAGNOSA

       I.            Resiko tinggi terhadap infeksi (progesi dari sepsis ke syok sepsis) berdasarkan prosedur invasif, pemajanan lingkungan (nasokomial).
Intervensi :
1)      Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi
2)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukaan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril.
3)      Dorong penggantian posisi , nafas dalama/ batuk.
4)      Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan
5)      Pantau kecendrungan suhu




Rasional :
1)      Isolasi luka linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan untuk mengalirkan luka, sementar pengunjung untuk menguranagi kemungkinan infeksi.
2)      Mengurangi kontaminasi ulang.
3)      Bersihkan paru yang baaik untuk mencegah pnemoniaa
4)      Mencegah penyebaran infeksi melalui proplet udaraa.
5)      Demam ( 38,5OC- 40OC) disebabkan oleh efek dari endotoksinhipotalkus dan endofrin yang melepaskan pirogen.


    II.            Hipertermia berdasarkan peningkatan tingkat metabolisme, penyakit dehidrasi, efek langsung dari sirkulasiedotoksia pada hipotalamus perubahan pada reguasi temperataif.
Intervensi :
1)      Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil / diaporesis.
2)      Pantau suhu linkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi.
3)      Berikan kompres hangat.
Rasional :
1)      Suhu  38,9OC- 41,1OC menunjukakana proses penyakit infeksius akut.
2)      Suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankana sushu mendekati normala.
3)      Dapat membantu mengurangi demam.



 III.            Kekurangan volume cairan berdasaarkan peningkataaan jelas padaa vasodilatif maatif/ kompurtmen vaskuler dan permeabilitas kapiler/kebocvoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga)
Intervensi :
1)      Ukur / kadar urine dan berat jenis datat ketidaak seimbangan masukan dan keluaraan kumulatif dihubungkan dengan berat badan setiapa hari, dorong masukan cairan oral sesuai toleransi.
2)      Palpasi denyut peripher
3)      Kaji membran mukosaa kering, turgor kulit yang kurang baik, dan rasa haaus.
4)      Amat odema dependem/ periper pada skrotum, punggung kaki.
Rasional :
1)      Pengurangan dalam sirkulasi volume cairan dapat mengurangi tekanan darh.
2)      Denyut yang lemah, mudah hilang dapat menyebabkan hipovolemia.
3)      Hipovomelemia/cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda tanda dehidrasi.
4)      Kehilangan cairan dari komparlemen vaskuler kedalam ruangaan intersilikal akan menyebabkan edema jaringan.








BAB III
KESIMPULAN
A.    KESIMPULAN
Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. (DEPKES 2007)
a)      Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.
b)      Proses patofisiologi sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.
c)      Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium
d)     perubahan ambilan dan penggunaan oksigen terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat, complemen cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminatedintravaskular coagulation (DIC) dan kematian.( Bobak, 2004).
B.     SARAN
a)     Meningkatkan mutu pelayan kesehatan
b)     Meningkatkan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
c)     Meningkatkan pofesionalitas kerja perawat.



DAFTAR PUSTAKA

v  Carpenito, LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktek Klinis, Edisi 6. Jakarta : EGC.
v  Doengoes, dkk. 1999 .Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta :EGC
v  Harianto, Agus. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses internet di http://www.pediatrik.com/artikel/sepsis-neonatorium
v  Novriani, Erni. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses Internet di http://cemolgadis-melayu.blogspot.com/2008/12/kepanak-sepsis.htm
v  Berkow & Beers. 1997. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Akses internet dihttp://debussy.hon.ch/cgi-bin/find?1+submit+sepsis_neonatorum
v  Nelson, Ilmu Kesehatan Anak ed.15 vol.I.1999.EGC:Jakarta
v  Bobak,keperawatn maternitas ed.4.2004.EGC:Jakarta











DAFTAR ISI
BAB I  : TINJAUAN TEORITIS
1.      DEFENISI
2.      ETIOLOGI
3.      PATOFISIOLOGI
4.      MANIFESTASI KLINIS
5.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
6.      PENATALAKSANAAN
7.      KOMPLIKASI
8.      PENCEGAHAN
BAB II : ASUHAN KEPERAWATA
1.      PENGKAJIAN
2.      DIAGNOSA
3.      INTERVESI
4.      RASIONAL
5.      EVALUASI
BAB III: KESIMPULAN
1.      KESIMPULAN
2.      SARAN
DAFTAR ISI


ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.DENGAN GANGGUAN SEPSIS NEONATORUM
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
1.      MINTARIA NAIBAHO
2.      KASIRIA NDRURU
3.      RAJA YUNUS SINAGA
4.      WARISMAN NDRURU




AKADEMI KEPERAWATAN RSU HERNA MEDAN
T/A 2012/2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar